Ujian-Ujian Hidup

oleh: Pdt. Toni Antonius

1 Samuel 30

Daud bersama dengan pasukannya akhirnya kembali ke tempat tinggal mereka di Ziklag. Sebuah rasa syukur ada di hatinya karena Tuhan menolong dia sehingga dia tidak usah berperang dengan orang-orang Israel untuk membantu orang Filistin. Tuhan telah menolongnya. Akan tetapi ternyata tempat tinggal mereka telah dijarah oleh orang-orang Amalek (ayat 1-3). Karena kesedihan yang amat sangat maka orang-orang yang tadinya mengikuti Daud jadi bermaksud membunuh Daud dengan melempari dia dengan batu (ayat 4-6). kemudian kita bisa melihat bagaimana Daud menghadapi semuanya dengan tenang dan berserah pada Tuhan.
Dalam hidup kita masalah demi masalah terjadi silih berganti. Kadang dalam menghadapi masalah yang ada kita bisa bersungut-sungut kepada Tuhan. Terlebih mungkin ketika masalah itu terjadi setelah sebelumnya sebuah masalah terselesaikan. Kita bisa bertanya-tanya apakah Tuhan sedang mempermainkan kita? Setelah satu masalah terselesaikan, langsung ada masalah baru yang lebih berat dari sebelumnya.
Petrus mengajarkan supaya ketika kita menghadapi masalah, kita memandang masalah itu sebagai pemurnian iman yang akan membawa kita menjadi lebih sempurna lagi (1 Petrus 1:6-7). Tidaklah mudah untuk melakukannya, tapi marinkita terus berusaha dan mengingat perkataan rasul Petrus ini ketika menghadapi masalah dalam hidup kita.
Daud menghadapi masalahnya dengan baik. Dia meminta petunjuk Tuhan (ayat 7-8), dia tidak takut ketika sepertiga anak buahnya kelelahan dan akhirnya tinggal menunggu di Sungai Besor (ayat 9-10). Dalam pengejarannya, dia sempat menolong seorang pemuda yang kelaparan (ayat 11-12), yang akhirnya bisa memberika pertolongan baginya untuk menunjukkan dimana musuh-musuhnya berada (ayat 13-16). Setelah mengalahkan pasukan Amalek, Daud membagi barang rampasan dengan adil, termasuk bagi dua ratus anak buahnya yang tinggal di sungai Besor (ayat 17-25), selain itu dia membagikannya juga kepada orang-orang lain (ayat 26-31).  Ada beberapa pengajaran yang bisa kita dapatkan dari apa yang dilakukannya.
Pertama kita bisa belajar dari iman Daud yang luar biasa. Setelah mendengar jawaban Tuhan, Daud tidak menunda untuk mengejar musuhnya. Walaupun sepertiga kekuatannya hilang, dia tidak takut. Mari kita percaya bahwa Tuhan pasti mendengar doa-doa dan memperhatikan keadaan anak-anak-Nya. Walau setelah berdoa ternyata kekuatan kita berkurang, jangan kita menjadi takut dan bimbang. Kedua, tetap bisa mengulurkan tangan memberi pertolongan kepada yang membutuhkan. Kadang kita berpikir, “Bagaimana mungkin saya bisa menolong orang lain kalau saya sendiri saat ini ada dalam kesusahan?”. Jangan ragu untuk mengulurkan tangan menolong sesama kita. Tuhan pasti akan membalas setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Dari orang Mesir yang ditolongnya itu akhinya Daud bisa mengetahui ke arah mana orang-orang Amalek itu pergi. Ketiga, tidak menjadi serakah dan bersikap adil terhadap pengikutnya. Mari kita menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Walau dia tidak turut berpartisipasi, atau tidak ikut merasakan berjerih lelah tapi tidak ada salahnya kita memberikan sedikit berkat yang kita terima dari Tuhan. Semakin banyak kita memberi, diri kita semakin diberkati. Semakin kuat kita menahan berkat tersebut, semakin kita merasa berkekurangan.
Ujian-ujian silih berganti terjadi dalam hidup kita. Jangan takut dan percayalah kepada Tuhan bahwa Tuhan pasti menjaga dan memberikan jalan keluar bagi kita (1 Korintus 10:13).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: