Pembalasan

oleh: Pdt. Toni Antonius

 

1 Samuel 31

 

Pasal 31 ini menceritakan akhir hidup dari Saul, raja Israel yang pertama. Dalam peperangannya melawan orang-orang Filistin di pegunungan Gilboa, Saul dan pasukannya terdesak. Karena panah dari lawan akhirnya Saul terluka parah. Dalam kondisinya, dia merasakan keputusasaan sehingga akhirnya dia mengambil langkah untuk mengakhiri hidupnya (ayat 1-4).

Saul mengawali kisahnya dalam Alkitab dengan sebuah keadaan yang baik, tapi dia mengakhirinya dengan keadaan yang benar-benar kebalikannya. Dia menjauh dari Tuhan, tidak mau mendengar perintah Tuhan dan bahkan mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang raja pertama dari Israel. Kehidupannya bisa berubah karena dia tidak mau mendengar perintah Tuhan ketika Tuhan berfirman untuk menghancurkan semua milik orang Amalek. Setelah itu bukannya bertobat tapi dia lebih mementingkan kehormatan/ harga dirinya di mata orang Israel. Satu hal yang bisa kita pelajari dari akhir hidup Saul adalah mari gunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bertobat dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan, jangan sampai kita menyesal karena ketika kita mau bertobat, kesempatan itu sudah ditutup dari hadapan kita. “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”(Yes. 55:6). Berusahalah untuk menyelesaikan pertandingan iman kita dengan baik seperti yang dilakukan oleh Paulus sehingga pada akhir hidup kita memiliki sebuah keyakinan bahwa kita pasti mendapatkan mahkota kemuliaan dari Tuhan. Jangan menyerah dengan keadaan yang ada dan teruslah berjuang.

Yang kedua, kita bisa melihat bagaimana penduduk Yabesy-Gilead berusaha dengan luar biasa untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Saul (ayat 11-13). Kemungkinan besar ini karena mereka mengingat jasa Saul dalam menolong mereka dari kepungan orang-orang Amon (1 Sam. 11:1-11). Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Apapun yang kita lakukan semuanya akan kembali kepada kita walaupun waktunya tidaklah pasti. Kebaikan Saul diingat oleh penduduk Yabesy-Gilead sehingga mereka berusaha menyempurnakan jenazah dari Saul.

Dari sini kita bisa belajar bahwa perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah sia-sia, suatu saat pasti kita akan menuai hasilnya kembali. Jangan jemu-jemu untuk berbuat baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: