Kesempatan Dalam Kesempitan

oleh: Pdt. Toni Antonius

2 Samuel 1

Berita tentang kematian Saul dan anak-anaknya akhirnya sampai ke telinga Daud. Berita itu dibawa oleh seorang muda Amalek yang mengaku bahwa dia yang membunuh Saul oleh karena permintaan Saul sendiri. Dari sini kita bisa baca bahwa pemuda ini bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saul meninggal karena bunuh diri seperti yang kita baca pada pada pasal sebelumnya.  Akan tetapi pemuda ini mengaku bahwa dia yang membunuh Saul atas permintaan Saul sendiri. Dia bermaksud mengambil kemuliaan untuk dirinya, dengan harapan kalau dia melaporkan kematian Saul maka Daud akan memberikan imbalan karena pemuda ini telah menyelesaikan permasalahan Daud.

Godaan untuk memperoleh pujian atau keberhasilan dengan cara yang singkat sering terjadi pada setiap orang, tidak terkecuali orang-orang Kristen. Karena persaingan yang semakin ketat, peluang keberhasilan yang semakin kecil, kebiasaan serba instant yang sudah membudaya, ketika ada kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dengan cepat, itu tidak disia-siakan; termasuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Akan tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukannya pujian dan hadiah yang didapatkan, malahan hukuman mati yang diperoleh karena Daud memiliki sebuah pandangan bahwa hanya Tuhan yang berhak menurunkan tangan terhadap orang yang diurapi-Nya.

Jalan orang saleh diratakan  oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya (Ams. 11:5). Orang fasik pasti akan jatuh karena perbuatannya. Mungkin tidak segera seperti yang dialami pemuda Amalek itu, tapi suatu waktu pasti terjadi.

Pemuda ini ternyata merupakan orang Amalek, suku yang menyerang bangsa Israel dengan kejam ketika mereka ada di padang gurun (Kel. 17:8; Ul. 25:17-19). Saul diperintahkan untuk memusnahkan orang Amalek tapi dia gagal menjalankan perintah tersebut (1 Sam. 15). Hal kedua yang bisa kita pelajari, secara rohani musuh tetaplah musuh dan rencana musuh pasti berniat menghancurkan. Jangan kita mengadakan perdamaian dengan musuh rohani kita, karena walaupun kelihatannya dia memberikan keuntungan bagi kita tapi niat sebenarnya adalah untuk menghancurkan kita. Musuh yang dimaksud di sini adalah musuh rohani yaitu iblis dan para pengikutnya (Ef. 6:11-12). Perintah Tuhan merupakan kebenaran dan tetap untuk selamanya. Jangan ragu terhadap perintah Tuhan dan lakukan dengan setia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: