Perang Saudara

oleh: Pdt. Toni Antonius

2 Samuel 2

 

Setelah Saul meninggal, atas petunjuk Tuhan akhirnya Daud membawa anak buahnya dan rombongan mereka ke Hebron. Di sana, orang-orang Yehuda mengangkat Daud menjadi raja atas mereka sementara suku-suku yang lainnya mengikuti Isyboset bin Saul dan Abner bin Ner (ayat 1-11). Selama itu ada perang saudara terjadi antara orang-orang Yehuda yang mengikuti Daud dengan suku-suku Israel lainnya yang mengikuti Isyboset dan Abner. Banyak korban berjatuhan selama perang saudara ini, contohnya dalam perang kali ini akhirnya banyak pahlawan-pahlawan yang gugur seperti yang dituliskan pada pasal ini ada dua puluh empat orang muda yang berhadapan satu lawan satu dan Asael yang tidak putus asa mengejar Abner (ayat 12-23). Kedua belah pihak sama-sama mempertahankan pendiriannya dan tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya pihak Abner mengajak pihak Daud yang dipimpin Yoab berunding, barulah perang tersebut berhenti.

Andaikan saja pihak Abner mau bertanya kepada Tuhan, bukannya bertindak menurut akalnya pastilah perang itu tidak akan terjadi dan tidak perlu banyak korban berjatuhan. Keributan antar saudara biasanya terjadi karena kedua belah pihak sama-sama mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pertikaian antar saudara bukanlah satu hal yang baik karena kemungkinan besar akan melibatkan saudara-saudara yang lain karena kemungkinan besar kedua pihak akan mencari sekutu untuk menguatkan masing-masing pihak.

Paulus mengingatkan kepada jemaat dalam suratnya supaya kita belajar sedapat mungkin hidup dalam perdamaian; “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18) dan “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan?” (1 Kor. 6:7). Untuk menjaga perdamaian di antara saudara baik dalam keluarga maupun dalam gereja bukanlah satu hal yang mudah. Kita belajar untuk mengalah dan mungkin mengorbankan kepentingan pribadi kita dengan tujuan tidak ada pertikaian lagi. Tapi hidup damai pasti lebih enak dibandingkan hidup dalam pertikaian. Semuanya tergantung pada keputusan yang kita ambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: