Memperbaiki Kesalahan

oleh: Pdt. Filipus Toni

2 Samuel 7

Tabut Allah sudah berada di Yerusalem, di tengah-tengah bangsa Israel. Pada waktu itu kerajaan Israel di bawah pimpinan Daud semakin menjadi kuat. Daud sendiri atas bantuan dari Hiram, raja Tirus, mendirikan istana kerajaan. Setelah itu oleh karena cintanya kepada Tuhan, dia mempunyai sebuah rencana untuk membuat rumah bagi Tuhan. Dia mengkonsultasikan keinginan hatinya itu kepada Nabi Natan, hamba-Nya. Nabi Natan setuju dengan apa yang menjadi keinginan hati Daud (ayat 1-3). Akan tetapi pada malam harinya, Tuhan berfirman kepada nabi Natan bahwa bukan Daud, tapi keturunannyalah yang akan mendirikan rumah bagi Tuhan (ayat 4-16). Nabi Natan menyampaikan kepada Daud tepat seperti yang disampaikan Tuhan kepadanya (ayat 17).

Nabi Natan tidak takut untuk mengubah perkataannya yang tadinya setuju dengan niat hati Daud, sekarang bisa dibilang tidak setuju karena Tuhan yang berfirman. Dia tidak takut kehilangan kedudukan kepercayaan, kehormatan di hadapan raja dan menyampaikan firman Tuhan dengan tepat.

Harga diri merupakan satu kebutuhan manusia. Dengan kita mengakui kesalahan, atau mengubah perkataan banyak orang berpendapat bahwa itu sama dengan kehilangan sebagian harga dirinya karena orang lain akan berpendapat bahwa kita merupakan seorang yang plin-plan. Bisa jadi kita pun berpendapat seperti itu sehingga ketika ada kesalahan dalam perkataan kita, kita tidak langsung mengaku kesalahan dan memperbaikinya tapi memutar otak bagaimana harus menjawab tanpa merasa kehilangan harga diri (ngeles).

Mengakui kesalahan dan memperbaikinya bukanlah merupakan sebuah keadaan yang membuat kita kehilangan harga diri. Justru sebaliknya ketika kita mau mengakui kesalahan kita dan memperbaikinya, orang anak melihat kita sebagai seorang yang berani dan terhormat, dibanding kita menghindar atau bersilat lidah untuk membenarkan perkataan kita.

Firman Tuhan ditulis berdasarkan ilham dari Roh Kudus dan harus ada bimbingan dari Roh Kudus untuk mengartikannya (2 Tim. 3:16). Firman Tuhan menuntun kita kepada keselamatan, karena itu jangan sampai kita salah dalam menyampaikannya karena dampaknya bukan hanya di dunia tapi juga dalam kehidupan kekal juga.Jangan malu mengakui kesalahan kita. Dengan kita mengakui kesalahan kita dan berani memperbaikinya, ada kekuatan yang besar yang kita pelajari dan peroleh dalam diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: