Nasihat Yang Salah

oleh: Pdt. Filipus Toni

2 Samuel 10

 

Daud mengikat persahabatan dengan negara-negara tetangga, salah satunya dengan raja bani Amon. Ketika Nahas, raja bani Amon itu meninggal, Daud menyampaikan belasungkawa dan bermaksud mengikat persahabatan dengan Hanun bin Nahas, yang menggantikan ayahnya menjadi raja atas bani Amon. Akan tetapi para utusannya dipermalukan dengan luar biasa sehingga terjadilah peperangan antara Israel dengan bani Amon. Walaupun bani Amon meminta bantuan kepada orang Aram, orang Maakha dan orang Tob, tetap mereka mengalami kekalahan sehingga tadinya mereka merupakan kerajaan yang bersahabat dengan Israel menjadi kerajaan yang takluk kepada Israel. Semuanya terjadi karena Hanun bin Nahas mengikuti nasihat dari para pemuka kerajaannya (ayat 1-3).

Orang-orang muda walaupun mungkin memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang tua tapi memiliki kekurangan dalam pengalaman. Ketika mengalami suatu kejadian yang baru pertama kali dan tidak ada pengetahuan yang dimilikinya, biasanya seseorang meminta nasihat dari pihak lain.

Amsal mengatakan bahwa kemenangan tergantung pada banyaknya penasihat (Ams. 24:6). Akan tetapi kita perlu berhati-hati dan melihat apakah nasihat itu merupakan nasihat yang baik atau merupakan nasihat yang tidak baik karena orang fasik pun bisa memberikan nasihat (Mzm. 1:1). Satu hal yang perlu diperhatikan pada saat ini adalah dalam keluarga semakin banyak anak-anak yang mencari nasihat bukan dari orang tuanya tapi dari teman atau internet yang belum tentu nasihat tersebut sesuai dengan perintah Tuhan. Hal ini terjadi karena orang tua semakin sibuk bekerja dan beraktifitas sehingga kurang adanya waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Karena jarang berkomunikasi maka tidak ada kedekatan dengan anak-anak sehingga ketika ada masalah, anak-anak lebih memilih untuk menceritakan masalahnya pada orang lain.

Kita semua tentu tidak ingin kalau anak kita menerima nasihat yang salah, yang malah membawa dia pada kehancuran. Karena itu luangkanlah waktu untuk keluarga dan bentuklah sebuah mezbah keluarga. Mezbah keluarga ada bukan hanya sekedar sarana berbagi firman Tuhan tapi juga sebuah komunikasi antara anak-anak dengan orang tua dimana mereka bisa belajar dan menerima nasihat yang benar, bisa bercerita dengan orang tuanya dan mendengarkan kesaksian-kesaksian yang dialami oleh orang tuanya.

Bentuklah mezbah keluarga dalam keluarga kita masing-masing dan lihatlah manfaatnya bagi keluarga kita, terutama bagi anak-anak yang kita sayangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: