Mengaku salah

Oleh: Pdt. Silas

Di pertandingan bola basket, kita sering mendengar suara peluit yang ditiup wasit berkali-kali. Tiupan peluit itu terdengar oleh karena beberapa sebab yang terjadi di lapangan. Tetapi paling sering adalah karena pelanggaran yang dilakukan para pemain. Jika kita perhatikan saat peluit ditiup dan wasit menunjuk pemain yang melakukan pelanggaran, maka reaksi para pemain kebanyakan akan segera membela diri tanda tak bersalah, padahal secara jelas mereka melakukan pelanggaran (sikap yang tidak sportif). Namun demikian, ada juga pemain yang segera mengaku melakukan pelanggaran setelah terdengar bunyi peluit, bahkan ada juga yang segera mengangkat tangan tanda mengaku salah sebelum wasit meniup peluit (sikap yang sportif). Tetapi sayangnya semakin hari semakin jarang orang yang sukarela mengaku bersalah. Saudaraku, membela dan mempertahankan kebenaran adalah hal yang semestinya kita lakukan. Tetapi jika kita salah lalu mempertahankan diri tetap mengaku benar, bukanlah yang patut kita lakukan. Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai terlihat jelas perbedaan antara orang yang ingin membenarkan diri dengan orang yang merasa bersalah dan mengaku dosa. Yang dibenarkan adalah orang yang mau merendahkan dirinya dan mengaku dosa.

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Lukas 18:13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: